Logo
Featured Image
Foto: Istimewa
Nasional

Permintaan Telur Bebas Sangkar Meningkat, Pasokan Belum Mampu Mengimbangi

Jurnalis
Wartawan Redaksi
Editor Denkur 22 April 2026

AFJ mendorong peternak, terutama melalui Program Ayam Merah Putih, beralih ke sistem cage-free lewat sarasehan di Gunungkidul.


DARA | Permintaan terhadap telur dari sistem bebas sangkar (cage-free) di Indonesia terus meningkat, seiring dengan meningkatnya perhatian konsumen dan pelaku usaha terhadap kesejahteraan hewan dalam rantai pasok pangan. Namun, ketersediaan pasokan dari peternak masih belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.

Kesenjangan ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sektor peternakan ayam petelur untuk bertransformasi menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Untuk menjawab kesenjangan tersebut, Animal Friends Jogja (AFJ) menyelenggarakan Sarasehan Peternak Gunungkidul 2026 pada Rabu (15/4) di Playen, Gunungkidul, yang diikuti oleh 37 peternak ayam petelur serta dihadiri oleh perwakilan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul dan Perwakilan Pembina Program Ayam Merah Putih Gunungkidul.

Sarasehan ini menjadi ruang bagi peternak untuk memahami penerapan kesejahteraan hewan sekaligus peluang pasar dari sistem bebas sangkar yang terus berkembang.

“Permintaan terhadap telur bebas sangkar terus tumbuh, namun tanpa dukungan yang memadai, peternak akan kesulitan mengejar kebutuhan pasar yang sudah bergerak lebih cepat,” ujar Elly Mangunsong, Direktur Program Advokasi Kesejahteraan Hewan yang Diternakkan, Animal Friends Jogja.

Prinsip kesejahteraan hewan menekankan bahwa hewan yang diternakkan harus bebas dari rasa lapar, sakit, dan stres, serta memiliki ruang untuk mengekspresikan perilaku alaminya—seperti bergerak, bertengger, dan bersarang—yang sulit terpenuhi dalam sistem kandang baterai yang masih banyak digunakan saat ini.

Di Indonesia, kesejahteraan hewan telah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta diperkuat oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 32 Tahun 2025.

Dalam kegiatan ini, para peserta mendapatkan pemaparan mengenai implementasi sistem bebas sangkar. Anom Yusuf dari Global Food Partners menjelaskan manajemen pemeliharaan ayam petelur bebas sangkar untuk skala kecil hingga menengah, termasuk pengelolaan kandang, pakan, serta tantangan penerapannya di tingkat peternak.

Sementara itu, drh. Aisah Nurul Fitri, Animal Welfare Specialist Animal Friends Jogja, menekankan bahwa penerapan sistem bebas sangkar perlu diiringi dengan pengelolaan kesehatan pada ayam petelur yang baik agar produktivitas dan kesejahteraan berjalan seiring.

Selain itu, Agung Setyoleksono, Ketua Tri Manunggal Bhakti, menyampaikan bahwa meningkatnya perhatian konsumen terhadap kesejahteraan hewan membuka peluang bagi peternak untuk mengembangkan sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tanpa dukungan yang terarah, kesenjangan antara permintaan dan pasokan berpotensi semakin melebar. Karena itu, AFJ menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor—mulai dari peternak, pemerintah, hingga pelaku usaha—menjadi kunci untuk memastikan transisi menuju sistem bebas sangkar dapat berjalan secara nyata dan berkelanjutan.***

Sumber: Rilis

Opini Pembaca