| Menjaga kesehatan tulang tidak cukup dilakukan saat usia mulai menua. Kebiasaan memenuhi kebutuhan nutrisi, berolahraga, dan menjalani pola hidup sehat perlu dibangun sejak masa pertumbuhan untuk menekan risiko osteoporosis di kemudian hari.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus peringatan Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 di Jawa Barat. Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) akan menggelar kegiatan edukasi dan aktivitas fisik yang melibatkan sekitar 3.000 peserta di Bale Rame, Kabupaten Bandung, Minggu (25/10/2026).
Mengusung tema Mendampingi Indonesia Bertulang Kuat, kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan tulang merupakan kebutuhan semua kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.
Ketua Umum Perwatusi, Anita A. Hutagalung, mengatakan pencegahan osteoporosis perlu dimulai sebelum seseorang memasuki usia rentan. Menurut dia, edukasi yang dilakukan sejak dini dapat membantu masyarakat menjaga kualitas hidup sekaligus mempertahankan kemandirian pada usia lanjut.
“Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan komitmen dan panggilan bagi kita semua untuk bergerak bersama,” kata Anita dalam konferensi pers di TP PKK Jawa Barat, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).
Anita menyebutkan, osteoporosis masih menjadi ancaman yang perlu mendapat perhatian, terutama karena penyakit ini kerap berkembang tanpa gejala yang mudah dikenali. Kondisi tersebut membuat sebagian orang baru mengetahui kepadatan tulangnya menurun setelah mengalami patah tulang.
Ia mengungkapkan, sekitar satu dari lima perempuan berusia 50 tahun ke atas mengalami osteoporosis. Sementara pada laki-laki, angkanya diperkirakan mencapai satu dari tujuh orang.
“Yang kita takutkan adalah patah tulang akibat osteoporosis. Karena itu, kita terus menggaungkan pentingnya menjaga tulang dan memperkuat otot agar tetap sehat, bahagia, dan mandiri di hari tua,” ujarnya.
Ketua DPC Perwatusi Cirebon, dr. Lusiana S. Yulianti, Sp.OT, menjelaskan osteoporosis dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, kekurangan nutrisi, minimnya aktivitas fisik, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.
Risiko juga meningkat pada perempuan setelah menopause karena penurunan hormon estrogen yang berperan dalam menjaga kepadatan tulang. Oleh sebab itu, pemenuhan kalsium dan pembentukan cadangan mineral tulang sejak usia muda menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Lusiana menekankan, menjaga kesehatan tulang tidak cukup hanya mengandalkan asupan nutrisi. Kebiasaan aktif bergerak dan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi tubuh juga perlu menjadi bagian dari keseharian.
Untuk menjangkau masyarakat lebih luas, Perwatusi mengembangkan edukasi yang disesuaikan dengan kelompok usia. Bagi lansia, misalnya, tersedia chair exercise atau senam menggunakan kursi yang dirancang agar aktivitas fisik tetap dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Perwatusi juga menjalankan program senam virtual yang telah mencapai 925 episode dengan sekitar 500 peserta, termasuk warga dari Malaysia dan Virginia, Amerika Serikat.
Ketua TP PKK Jawa Barat sekaligus Ketua DPD Perwatusi Jabar, Samantha Dewi, menilai keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat. Pemenuhan nutrisi dan aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten di lingkungan keluarga dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan tulang.
Sementara itu, Branch Group Manager Kalbe Nutritional, Dicky Sulaiman, menegaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan tulang sebaiknya tidak baru muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Melalui HON 2026, Perwatusi menargetkan edukasi pencegahan osteoporosis dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan berkembang menjadi gerakan berkelanjutan di berbagai daerah. Organisasi ini juga menargetkan pelatihan 500 instruktur setiap tahun untuk memperluas penyebaran informasi serta mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan tulang.
