Tajir Takjub Akbar, Pilihkan Kosmetik Halal

Wanita harus berhati-hati dalam menggunakan kuas untuk alat make up, sebab banyak beredar kuas dari bulu babi. Karena bulu babi itu halus, sehingga banyak yang membuatnya untuk kuas make up.


DARA | Masyarakat Indonesia makin meminati penggunaan komsetik, terutama kaum wanita. Hampir dipastikan produk make up dan skincare tidak terlepas dalam aktivitas hariannya.

Meski begitu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama soal apakah produk tersebut halal atau tidak.

Terungkap dalam diskusi panel Wardah di Acara Takjub Akbar yang mengusung tema Halal Beauty, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Sabtu (28/1/2023), Kepala Pusat Regulasi dan Sertifikasi Halal Siti Aminah mengatakan, tahun 2026 semua produk kosmetik wajib bersertifikat halal.

“Jika sampai tahun 2026 masih banyak produk kosmetik yang belum bersertifikat halal maka akan ditarik dari peredaran,” ujarnya.

Untuk mewujudkan program tersebut, lanjut Siti Aminah, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) membuat program sertifikat halal secara gratis untuk 1 juta produk di tahun ini, dan 10 juta produk untuk tahun 2024.

Dengan begitu Siti Aminah berharap pada tahun 2026 seluruh produk kosmetik sudah memiliki sertifikat halal.

Siti Aminah memaparkan yang dimaksud produk halal bukan hanya bahan bakunya, namun bagaimana proses pembuatan produksinya pun perlu diperhatikan.

“Bahan untuk produk kosmetik itu ada yang dari unsur hewani. Misalnya jelatin babi. Karena memang bahan baku kosmetik juga banyak yang dari luar negeri yang tidak mengerti mengenai kehalalan dari bahan tersebut,” paparnya.

Selain itu, Siti Aminah menegaskan para wanita agar berhati-hati dalam menggunakan kuas untuk alat make up. Karena banyak beredar kuas dari bulu babi. Karena bulu babi itu halus sehingga banyak yang membuatnya untuk kuas make up. Untuk membedakan kuas dari bulu babi atau bahan plastik dapat dilakukan dengan cara membakar ujung kuas tersebut.

Jika tercium seperti bau rambut terbakar, maka kata Siti Aminah itu kebanyakan dari bulu babi namun jika dibakar bulunya melekat itu terbuat dari bahan plastik.

Sejalan dengan program pemerintah mengenai produk kosmetik halal, Hilda R&D PT Paragon Technology & Innovation mengatakan bahwa produk kosmetik yang dikeluarkan oleh perusahannya selalu kosisten untuk menguatamakan unsur kehalalan baik dari bahan maupun saat proses produksinya. Setiap produk yang dikeluarkan seperti selalu memberikan inovasi baru serta sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini.

Produk kosmetik dan skincare, yang diproduksinya pun yang wudhu friendly.

“Untuk proses menuju halal itu panjang, yang paling harus teliti adalah saat pemilihan bahan baku, karena memang sebagain besar dari luar negeri,” ungkapnya.

Diskusi panel tersebut dihadiri oleh Dini Aminarti sebagai salah satu Wardah Brand Ambassador. Menurut Dini artis yang terlihat awet muda ini mengatakan, dirinya tidak mau bermake up jika ibadahnya tidak diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu dia berpesan agar setiap pengguna produk kosmetik memang harus teliti mengenai kehalalan dari produk tersebut sehingga, tetap tampil cantik tanpa mengurangi nilai ibadah.

Bagi Dini Aminarti, sebagai public figure dan influencer sudah seharusnya memberikan informasi yang tepat dan baik bagi masyarakat.

Untuk membuat konten menurut Dini, harus yang memberikan manfaat kepada lingkungan. Salah satunya adalah dengan menginformasikan produk-produk yang digunakan harus berlogo halal.

Media social menjadi salah satu media untuk penyebaran informasi mengenai produk-produk halal itu.

Tinggalkan Balasan