Stres: Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan

Minggu, 7 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: Kemenkes)

Ilustrasi (Foto: Kemenkes)

Masih banyak orang menganggap stres itu negatif, sehingga mencari berbagai cara untuk menghindari stres.

DARA | Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO, stres adalah respon alami manusia saat menghadapi tekanan atau perubahan dalam kehidupan.

Setiap orang pasti akan mengalami stres, namun cara kita merespon stres lah yang akan menentukan kesehatan mental kita. Apa itu stres?

Stres adalah sebuah kondisi yang dirasakan saat seseorang menghadapi tantangan, atau berada dalam situasi yang mengharuskan kita menyesuaikan diri secara cepat dengan sebuah perubahan. Ketika stres membuat kita menjadi lebih terpacu dan termotivasi, stres ini dinamakan eustress atau stress yang positif.

Eustress bermanfaat dalam memacu kreativitas, menimbulkan inspirasi dan rasa bahagia, serta menyehatkan tubuh. Eustress diperlukan, misalnya untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat waktu yang diberikan, mengejar prestasi atau pencapaian dan lain sebagainya.

Sebaliknya, distress adalah stres negatif yang timbul ketika kita tidak sanggup mengatasi tekanan atau tantangan yang dihadapi.

Distress adalah perasaan tidak nyaman, kewalahan, cemas, dan gelisah, yang jika berkelanjutan dengan intensitas tinggi, lama kelamaan akan merusak kesehatan mental.

Jenis Stres
Stres negatif atau distress terbagi menjadi 2 jenis berdasarkan lama berlangsungnya, yaitu stres akut dan stres kronis.

Stres Akut
Stres akut terjadi ketika kita dihadapkan pada situasi yang mendesak atau membahayakan, seperti berada di jalan yang sangat macet dan berpotensi membuat kita terlambat, atau melihat orang menyeberang jalan, sehingga harus menginjak rem dengan cepat.

Stres jenis ini biasanya berlangsung dalam jangka pendek, mudah ditangani, dan akan mereda dengan sendirinya jika pemicu stres sudah hilang.

Stres Kronis
Stres kronis berlangsung lebih lama, hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Contohnya, menghadapi masalah keuangan, konflik dalam rumah tangga atau tempat kerja.

Seringkali orang tidak menganggap jenis stres ini serius, bahkan menjadi terbiasa. Namun, jika tidak dituntaskan, stres kronis dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, baik fisik maupun emosional.

Gejala-Gejala Stres

Penyebab stres bisa berasal dari diri sendiri maupun faktor lingkungan. Saat mengalami stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol dan adrenalin, yang memicu reaksi dalam tubuh seperti jantung berdetak lebih cepat, otot menegang, napas lebih cepat, tekanan darah dan sinyal kewaspadaan meningkat.

Berikut adalah ciri-ciri orang yang mengalami stres, dibagi berdasarkan gejala-gejalanya, yaitu

1. Gejala Psikis
-Mudah merasa frustasi dan marah

-Suasana hati berubah-ubah.

-Merasa bingung dan tidak berguna.

-Pikiran dan perasaan tidak tenang.

-Menghindar dari orang lain.

-Depresi.

2. Gejala Fisik
-Pusing dan mual.

-Lemas.

-Diare atau sembelit.

-Gangguan tidur atau tidak bisa tidur (insomnia).

-Gangguan pencernaan, seperti masalah gastritis, usus besar dan GERD.

-Obesitas dan penyakit kardiovaskular.

-Perubahan berat badan.

-Berkeringat.

-Gairah dan kemampuan seksual menurun.

-Mulut kering dan sulit menelan.

-Telinga sering berdenging.

-Tubuh gemetar dan jantung berdebar.

3. Gejala Kognitif
-Kesulitan untuk fokus.

-Mudah lupa.

-Pesimis dan berpikiran negatif.

-Kesulitan dalam mengambil keputusan.

4. Gejala Perilaku
-Cenderung menghindar dari tanggung jawab.

-Gugup atau resah.

-Kecanduan merokok atau minuman beralkohol.

Segera kunjungi fasilitas pelayanan kesehatan untuk meminta bantuan dokter, psikiater atau tenaga kesehatan, jika mengalami atau menemui gejala-gejala berikut ini.

-Tidak bisa mengendalikan rasa takut dan panik.

-Tidak mampu beraktivitas sehari-hari.

-Sulit melupakan trauma.

-Sering merasa pusing dan detak jantung meningkat.

-Sulit tidur dan mengalami insomnia.

-Berpikir untuk mengakhiri hidup.

Penyebab Stres
Stres bisa terjadi pada siapa saja dan penyebabnya juga bisa bermacam-macam, seperti

-Beban Kerja
Beban kerja yang tidak realistis, tuntutan tinggi di tempat kerja disertai kurangnya kendali terhadap pekerjaan dan kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat memicu timbulnya stres.

-Krisis Ekonomi
Masalah keuangan atau hutang yang menumpuk dapat menimbulkan kecemasan dan tekanan dalam diri seseorang.

-Peristiwa Buruk
Peristiwa buruk yang dialami seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, kematian orang yang dicintai dan sejenisnya dapat menimbulkan distres.

-Penyakit Kronis
Mengidap penyakit atau gangguan kesehatan kronis serta cedera, yang bersifat jangka panjang, dapat menjadi sumber stres.

-Ketidakpastian
Kekhawatiran dan rasa tidak aman terhadap masa depan, pendidikan atau karir dapat menciptakan ketegangan emosional.

-Lingkungan Tidak Aman
Kondisi lingkungan yang tidak aman dan tidak stabil, seperti area konflik, peperangan dan kerusuhan, atau mengalami bencana alam, dapat menimbulkan stres dan ketidaknyamanan.

Faktor Risiko Stres
Pada kebanyakan orang, stres akan mereda dengan sendirinya jika situasi yang dialami membaik, atau jika kita sudah bisa beradaptasi dengan situasi yang menimbulkan stres. Meski demikian, ada kelompok orang-orang yang lebih rentan mengalami stres, yaitu orang-orang yang

-Tidak bisa tidur atau mengalami gangguan tidur.

-Asupan nutrisinya tidak cukup atau tidak sesuai dengan kebutuhan.

-Kondisi kesehatan fisik dan mentalnya tidak baik.

-Memiliki trauma pada masa lalu.

-Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental.

Kelola Stres dengan Baik
Stres tidak dapat dihilangkan, tapi bisa diredakan. Cara meredakan stres yang paling efektif adalah mengelolanya dengan baik. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengelola stres.

-Konseling atau Curhat
Ungkapkan beban pikiran dan perasaan Anda kepada orang terdekat atau orang yang Anda percaya. Anda pun bisa melakukan konseling dan meminta bantuan kepada tenaga kesehatan dan psikiater.

-Mengonsumsi Makanan Sehat
Cara lain meredakan stres adalah dengan menjaga kesehatan dan mencukupi kebutuhan nutrisi dengan makanan bergizi. Hindari makanan dan minuman yang dapat memicu stres, seperti alkohol, gula, makanan dan minuman yang tinggi kadar garam dan kafein.

Perbanyak ikan, buah-buahan, sayuran, biji-bijian dan kacang-kacangan, khususnya yang kaya akan vitamin B dan magnesium, yang berperan dalam mengatur suasana hati.

-Berolahraga dan Beraktivitas Fisik
Saat berolahraga dan bergerak, tubuh mengeluarkan hormon endorfin yang dapat membuat tubuh lebih rileks dan membuat suasana hati lebih baik. Berolahraga juga dapat mengalihkan pikiran Anda dari hal-hal yang selama ini mengganggu.

Lakukan olahraga atau aktivitas fisik secara rutin minimal 30 menit selama 5 kali dalam seminggu. Beberapa jenis olahraga yang bisa dilakukan antara lain jalan santai, jogging, bersepeda, atau berenang. Anda pun bisa melakukan kegiatan rumah tangga, seperti membersihkan rumah atau berkebun.

-Lakukan Kegiatan yang Anda Minati
Melakukan kegiatan menyenangkan sesuai hobi, seperti membaca buku, memasak, bermain musik, melukis, menyanyi dan menari, atau bermain dengan binatang peliharaan dapat memicu keluarnya hormon dopamin. Hormon dopamin adalah hormon bahagia yang dapat membuat tubuh lebih rileks dan pikiran tenang.

-Berpikir Positif dan Tenang
Selalu berusaha dan mencoba mencari hal-hal positif dari kejadian atau tantangan yang Anda alami. Meditasi dapat membantu Anda untuk fokus pada pikiran positif dan menenangkan diri. Saat melakukan meditasi, hormon kortisol dalam tubuh akan menurun, sehingga Anda menjadi lebih rileks dan tenang.

-Tidur Cukup
Kurangnya waktu dan kualitas tidur dapat menurunkan suasana hati, energi dan konsentrasi. Saat tidur otak dan tubuh beristirahat. Buatlah rutinitas tidur yang baik, seperti meredupkan lampu, menghindari pemakaian gadget minimal satu jam sebelum tidur, dan tidur pada waktu yang sama secara konsisten. Anda pun dapat memasang aromaterapi dengan aroma menenangkan untuk membantu Anda terlelap.

Segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk konsultasi jika Anda mengalami kesulitan tidur atau penurunan kualitas tidur.

-Beribadah dan Mendekatkan Diri pada Tuhan
Meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa diyakini bisa meningkatkan keimanan, serta membantu Anda lebih tenang dan tabah, jauh dari pikiran-pikiran negatif.

Diagnosis Stres
Diagnosis stres dilakukan dengan menggunakan kuesioner The Perceived Stress Scale (PSS-10), sebuah alat tes psikologi yang bertujuan untuk menentukan tingkat stres yang dialami penderita. Dokter juga akan melakukan tanya jawab dengan penderita tentang penyebab stres yang dialaminya.

Setelah mendapatkan hasil dari kuesioner dan tanya jawab, dokter akan menentukan apakah stres yang dialami stres akut atau kronis. Jika stres menimbulkan gangguan kesehatan lainnya, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, MRI dan CT Scan.

Pengobatan Stres
Mengelola stress bertujuan untuk membantu kita menjalani kehidupan sehari-hari tanpa kendala, bukan untuk mengobati stres. Adapun pengobatan stres bisa dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.

Menemukan penyebabnya
Mengetahui faktor pemicu stres bisa menjadi langkah pertama untuk menuntaskannya. Misalnya, konflik dalam rumah tangga, masalah dalam pekerjaan atau masalah keuangan.

Menemukan solusinya
Jika sudah menemukan penyebabnya, Anda tinggal mencari solusi pemecahan masalahnya. Mulailah dengan solusi yang paling mudah dilaksanakan dan susun rencana selanjutnya. Misalnya, jika penyebabnya adalah kurang tidur, perbaikilah kualitas dan rutinitas tidur Anda, atau lakukan relaksasi dan meditasi untuk menenangkan pikiran.

Konsultasi dengan Tenaga Profesional
Jika Anda tidak dapat menemukan penyebab stres dan solusinya, mintalah bantuan tenaga profesional, seperti dokter atau psikiater. Dokter atau psikiater dapat meresepkan obat jika dibutuhkan, atau melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan psikolog klinis atau perawat jiwa.

Dengan mengetahui apa itu stres dan cara-cara menanganinya di atas, diharapkan dapat memberikan dorongan kepada Anda untuk mau mengatasi stres dengan melakukan hal-hal positif, serta menghindari tindakan-tindakan yang mengarah ke perilaku negatif yang kurang sehat.

Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera melakukan pemeriksaan ke dokter atau psikiater jika membutuhkan bantuan dalam mengatasi stres.***

Artikel ini sebelumnya sudah ditayangkan laman Kemenkes dengan judul: Apa Itu Stres: Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan.

Editor: denkur

Berita Terkait

Inilah 10 Cara Berhenti Merokok
Nasi Tumpeng Ternyata Sudah Ada Sebelum Islam Masuk Jawa
Ini Dia Caranya agar Video Tiktok Anda Banjir Like dan Followers
Ajak Jurnalis Seluruh Indonesia, FIFGROUP Kembali Gelar National Media Competition 2024
Tujuh Rekomendasi Bed Cover Terbaik untuk Tidur Nyenyak dan Nyaman
Mengenal Bayan Group, Produsen Batu Bara Ramah Lingkungan
Sistem Pengendalian Manajemen dalam Perusahaan PT Pertamina
Sistem Pengendalian Manajemen PT Catur Mitra Sejati Sentosa
Berita ini 8 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juli 2024 - 12:19 WIB

Inilah 10 Cara Berhenti Merokok

Minggu, 7 Juli 2024 - 13:18 WIB

Stres: Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan

Sabtu, 6 Juli 2024 - 10:09 WIB

Nasi Tumpeng Ternyata Sudah Ada Sebelum Islam Masuk Jawa

Sabtu, 6 Juli 2024 - 09:41 WIB

Ini Dia Caranya agar Video Tiktok Anda Banjir Like dan Followers

Minggu, 30 Juni 2024 - 14:39 WIB

Ajak Jurnalis Seluruh Indonesia, FIFGROUP Kembali Gelar National Media Competition 2024

Berita Terbaru


Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Bandung Hj. Emma Dety  Permanawati mengalungkan ID Card kepada peserta Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar Kwartir di Bumi Perkemahan Gentong, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Sabtu (13/7/2024).(Foto: diskominfo)

EKSKUL

Emma Dety Ajak Anggota Pramuka Jadi Agen Perubahan

Sabtu, 13 Jul 2024 - 15:30 WIB