Sejarah Bulu Tangkis Masuk Indonesia dan Sederet Prestasi di Kancah Dunia

Sabtu, 2 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rudy Hartono (Foto: Ist/Okezone)

Rudy Hartono (Foto: Ist/Okezone)

Sejak kapan bulu tangkis masuk Indonesia? Ternyata lebih dulu Malaysia dan Singapura. Tentu ada alasannya. Berikut sejarah singkatnya.


DARA – Bulu tangkis pertama kali masuk Indonesia sekitar tahun 1930-an. Malaysia dan Singapura sudah lebih dulu mengenal olahraga itu. Pasalnya, Inggris yang saat itu menjajah dua negara tetangga itu memperkenalkan bulu tangkis.

Setelah bulu tangkis dikenal di Indonesia muncul dua organisasi bulu tangkis Indonesia, yakni Bataviase Badminton Bond dan Bataviase Badminton League, yang muncul pada 1933.

Tahun 1951, barulah Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) dibentuk.

Sejak tahun 1934, bulu tangkis menjadi olahraga yang semakin populear dan sudah ada sejumlah kejuaraan yang diadakan di sekitaran Bandung. Namun setelah terbentuknya PBSI, para atlet badminton Indonesia mampu mengepakkan sayap di pertandingan-pertandingan internasional.

Tradisi tersebut berjalan bahkan hingga sekarang. Banyak pebulu tangkis kebanggaan Indonesia yang bahkan berhasil menorehkan prestasi di pertandingan seperti All England, SEA Games, atau Olimpiade.

Pebulu tangkis berprestasi Indonesia

Pebulu tangkis Indonesia yang berprestasi pertama adalah Liem Swie King, yakni di antara tahun 1970-an hingga 1980-an.

Prestasi yang diraih diantaranya di kejuaraan All England berhasil mendapatkan tiga gelar juara di tahun 1978, 1979, dan 1981.

Atas prestasi tersebut, King dikenal sebagai salah satu pebulu tangkis terbaik Indonesia sepanjang masa. Bahkan, ia pernah dianugerahkan Hall Of Fame oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pada Mei 2004.

Rudy Hartono

Kepiawaian Rudy Hartono dalam mengendalikan permainan membuatnya dijuluki sebagai seorang “wonderboy”. Kemampuan ini lantas juga mencatatkan dirinya dalam Guiness Book of World Record. Pasalnya, ia telah berhasil menjuarai All England sebanyak 8 kali dan meraih 4 gelar untuk Thomas Cup.

Tidak hanya itu saja, Rudy bahkan berhasil mencatatkan prestasi atas kerja kerasnya menyabet 23 gelar juara turnamen dunia. Pantaslah dirinya dijuluki pebulu tangkis terbaik dalam sejarah prestasi bulu tangkis Indonesia.

Susy Susanti

Ketika mendengar nama Susy Susanti, pasti Mama langsung tahu kalau dirinya adalah salah seorang legenda bulu tangkis Tanah Air. Susy sudah tak perlu diragukan lagi karena dunia pun telah mengakui kehebatannya.

Kesuksesan Susy dalam bulu tangkis mencapai puncaknya di masa Olimpiade Barcelon 1992. Pasalnya, ia berhasil mencatatkan namanya sebagai atlet Indonesia pertama yang mampu meraih medali emas di ajang tersebut.

Taufik Hidayat

Kalau berbicara soal bulu tangkis, maka Taufik Hidayat pun harus ada. Laki-laki tersebut dikenal flamboyan dan berkharisma saat sedang bermain di lapangan.

Taufik telah mengumpulkan banyak gelar prestisius, seperti gelar juara dunia, enam gelar juara Indonesia Open, dan medali emas di Olimpiade Athena 2004.

Selain itu, juga masuk dalam jajaran Fantastic Four tunggal putra dunia bersama Lin Dan (Tiongkok), Lee Chong Wei (Malaysia) dan Peter Gade (Denmark).

Liliyana Natsir

Liliyana Natsir juga mencatatkan namanya dalam sejarah prestasi bulu tangkis Indonesia sebagai pebulu tangkis perempuan hebat.

Butet, begitulah sapaan akrabnya, sudah bergaul dengan raket dan kok sejak umurnya masih 9 tahun.

Butet telah menghibahkan dua buah medali dari ajang Olimpiade untuk nomor ganda campuran, yakni medali perak di Olimpiade Beijing 2008 dan emas di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Di samping itu, Butet sangat disayangi pencinta bulu tangkis Tanah Air. Bahkan di saat dirinya sudah gantung raket pada 27 Januari 2019, tagar #ThankYouButet diramaikan oleh warganet di media sosial.

Prestasi di ajang All England

All England adalah salah satu ajang bulu tangkis yang paling bergengsi di dunia. Pertandingan pertamanya diadakan tahun 1898 di Gildford dan terakhir kali berlangsung pada 17–21 Maret 2021 di Birmingham.

Indonesia sudah banyak menorehkan prestasi hingga menduduki posisi keempat, setelah Inggris, Denmark, dan Tiongkok, sebagai negara yang paling banyak mengumpulkan gelar di All England, yakni sebanyak 48 gelar.

Dari semua perolehan tersebut, nama Tan Joe Hok menjadi atlet Indonesia yang pertama kali mempersembahkan gelar juara pada All England 1959.

Rudy Hartono dijuluki sebagai raja tunggal putra All England.

Berikut beberapa pebulu tangkis Indonesia lain yang mendapat gelar terbanyak di kejuaraan All England:

-Rudy Hartono – 8 gelar (1968, 1969, 1970, 1971, 1972, 1973, 1974, 1976)
-Tjun Tjun/Johan Wahjudi – 6 gelar (1974, 1975, 1977, 1978, 1979, 1980)
-Susy Susanti – 4 gelar (1990, 1991, 1993, 1994)
-Liem Swie King – 3 gelar (1978, 1979, 1981)
-Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir – 3 gelar (2012, 2013, 2014)

Prestasi di ajang SEA Games

Prestasi bulu tangkis Indonesia di kancah internasional, tercatat kurang lebih 59 medali emas yang telah dipersembahkan para atlet bulu tangkis di ajang tersebut.

Pertama kali berpartisipasi sejak di SEA Games 1977 Kuala Lumpur, Indonesia mengirimkan pebulu tangkis jagoannya. Beberapa nama, seperti Liem Swie King, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, dan Theresia Widiasuti, pun tidak pulang dengan tangan hampa. Setidaknya, mereka mampu meraih 6 emas kala itu.

Pencapaian Indonesia tentu tidak madek di situ saja.

Berikut daftar prestasi bulu tangkis Indonesia di SEA Games 1977–2017:

-SEA Games 1977 Kuala Lumpur: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1979 Jakarta: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1981 Manila: sektor individu 5 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1983 Singapura: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1985 Bangkok: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1987 Jakarta: sektor individu 5 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1989 Kuala Lumpur: sektor individu 5 emas; beregu 1 emas (putri);
-SEA Games 1991 Manila: sektor individu 5 emas; beregu 1 emas (putri);
-SEA Games 1993 Singapura: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1995 Chiang Mai: sektor individu 4 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1997 Jakarta: sektor individu 5 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 1999 Bandar Seri Begawan: sektor individu 3 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 2001 Kuala Lumpur: sektor individu 3 emas; beregu 1 emas (putri);
-SEA Games 2003 Hanoi & Ho Chi Minh City: sektor individu 2 emas; beregu 1 emas (putra);
-SEA Games 2005 Manila: sektor individu 4 emas; beregu 0 emas;
-SEA Games 2007 Nakhon Ratchasima: sektor individu 5 emas; beregu 2 emas;
-SEA Games 2009 Vientiane: sektor individu 3 emas; beregu 1 emas (putra);
-SEA Games 2011 Palembang & Jakarta: sektor individu 4 emas; beregu 1 emas (putra);
-SEA Games 2013 Naypyidaw: sektor individu 3 emas; beregu (tidak dipertandingkan);
-SEA Games 2015 Singapura: sektor individu 2 emas; beregu 1 emas (putra);
-SEA Games 2017 Kuala Lumpur: sektor individu 1 emas; beregu 1 emas (putra);
-SEA Games 2019 Manila: 3 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.

Prestasi di Olimpiade

Sejak pertama kali diresmikan menjadi cabor di tahun 1992, Merah Putih telah menunjukkan performa yang ciamik di perhelatan empat tahunan tersebut.

Perolehan medali Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992 pun semuanya berasal dari badminton.

Sempat absen menyumbangkan medali di Olimpiade 2012, namun tradisi yang ada selama ini masih berjalan dan kembali dihidupkan oleh pasangan ganda putri, Greysia Polii-Apriyani Rahayu, di Olimpiade Tokyo 2020.

Berikut perolehan medali Indonesia dari cabang bulu tangkis sejak Olimpiade 1992 hingga sekarang:

1. Olimpiade Barcelona 1992

Emas: Susy Susanti (Tunggal Putri), Alan Budikusuma (Tunggal Putra)

Perak: Ardy Wiranata (Tunggal Putra), Eddy Hartono/Rudy Gunawan (Ganda Putra)

Perunggu: Hermawan Susanto (Tunggal Putra)

2. Olimpiade Atlanta 1996

Emas: Ricky Subagja/Rexy Mainaky (Ganda Putra)

Perak: Mia Audina (Tunggal Putri)

Perunggu: Antonius Ariantho/Denny Kantono (Ganda Putra), Susy Susanti (Tunggal Putri)

3. Olimpiade Sydney 2000

Emas: Candra Wijaya/Tony Gunawan (Ganda Putra)

Perak: Tri Kusharjanto/Minarti Timur (Ganda Campuran), Hendrawan (Tunggal Putra)

Perunggu: –

4. Olimpiade Athena 2004

Emas: Taufik Hidayat (Tunggal Putra)

Perak: –

Perunggu: Eng Hian/Flandy Limpele (Ganda Putra), Sony Dwi Kuncoro (Tunggal Putra)

5. Olimpiade Beijing 2008

Emas: Markis Kido/Hendra Setiawan (Ganda Putra)

Perak: Liliyana Natsir/Nova Widianto (Ganda Campuran)

Perunggu: Maria Kristin Yulianti (Tunggal Putri)

6. Olimpiade London 2012

Emas: –

Perak: –

Perunggu: –

7. Olimpiade Rio de Janeiro 2016

Emas: Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad (Ganda Campuran)

Perak: –

Perunggu: –

8. Olimpiade Tokyo 2020

Emas: Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Ganda Putri)

Perak: –

Perunggu: Anthony Sinisuka Ginting (Tunggal Putra)

Editor: denkur | Sumber: POPMAMA

Berita Terkait

Final Piala Eropa 2024, Berikut Rekor Pertemuan Spanyol Vs Inggris
Cek Disini, Jadwal Siaran Langsung Piala AFF U-19
Begini Alasan, Juara 3 Piala Eropa Tidak Dipertandingkan
Presiden Jokowi Lepas Kontingen Olimpiade Paris 2024
Lamine Yamal Cetak Sejarah, Spanyol Lolos ke Final Piala Eropa 2024
Semifinal Piala Eropa 2024: Head to head Spanyol Vs Prancis
Piala Eropa 2024: Cody Gakpo Calon Top Skor, Harry Kane Jadi Ancaman
Cek Disini, Jadwal Semifinal Piala Eropa 2024
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juli 2024 - 14:06 WIB

Cek Disini, Jadwal Siaran Langsung Piala AFF U-19

Sabtu, 13 Juli 2024 - 13:02 WIB

Begini Alasan, Juara 3 Piala Eropa Tidak Dipertandingkan

Kamis, 11 Juli 2024 - 11:27 WIB

Presiden Jokowi Lepas Kontingen Olimpiade Paris 2024

Rabu, 10 Juli 2024 - 15:18 WIB

Lamine Yamal Cetak Sejarah, Spanyol Lolos ke Final Piala Eropa 2024

Selasa, 9 Juli 2024 - 12:51 WIB

Semifinal Piala Eropa 2024: Head to head Spanyol Vs Prancis

Berita Terbaru

Foto: Istimewa

NASIONAL

Mencicipi Citra Rasa Kopi di K-Coffee Culture & Arts KCCI

Minggu, 14 Jul 2024 - 15:46 WIB