Rumah Tahfizh, Sejarah dan Gerakannya

Jumat, 17 Mei 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Judul Buku : Historia Rumah Tahfizh Dunia : Dinamika Gerakan Hingga Asosiasi
Penulis : Dr. H. Tarmizi As Shidig, M.Ag., Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A., Muhammad Bisyri, M.Pd
Penerbit : Daqu Bisnis Nusantara
Tahun Terbit : 2024, Cetakan Pertama, 100 halaman

DARA | Awal tahun 2000an rilis survey yang dilakukan oleh PTIQ dan diungkap oleh kementerian agama terkait buta huruf Al-Qur’an di Indonesia. Datanya cukup mencengangkan.

Temuan survey tersebut mencatat sebanyak 70 persen muslim di Indonesia mengalami buta baca Al-Qur’an.

Buta baca ini tidak terkait pembacaan soal huruf hijaiyah, melainkan cara membaca Al-Qur’an sesuai hukum bacaannya.

Ini jelas mengagetkan banyak pihak mengingat saat itu Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia.

Temuan tersebut pun dijadikan pijakan oleh banyak organisasi dan ulama untuk mencari solusi.

Keresahan tersebut juga dirasakan oleh ustad Yusuf Mansur, dai muda asal betawi yang setiap dakwahnya dikenal mengajak masyarakat untuk menghafal Al-Qur’an.

Satu ikhtiarnya beliau mendirikan pondok pesantren Tahfizh Daarul Qur’an. Pondok ini berawal dari 8 santri yang mengaji dan menghafal bersama di saung depan rumahnya. Lalu berkembang hingga dipindahkan ke Bulak Santri. Saat itu ia mengajak orang tua untuk masuk ke pondoknya. Biayanya gratis yang diambil dari infak dan sedekah masyarakat.

Perlahan beliau menyadari jika menunggu banyak pesantren tahfizh maka proses mencetak penghafal Al-Qur’an akan memakan waktu lama.

Lalu secara spontan dalam satu tayangan pengajian di televisi swasta ia mengajak masyarakat untuk membuat rumah tahfizh. Ini semacam pesantren mini dan upgrade dari TPA yang saat itu juga sudah menjamur di masyarakat.

Dalam bayangannya rumah tahfizh ini nantinya bertempat di satu rumah, bisa di komplek, perkampungan dan lainnya, yang diasuh oleh satu orang ustad yang juga penghafal Al-Qur’an.

Setiap harinya para santri ini tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an sesuai hukum bacaan tetapi juga menghafal dan menyetorkannya.

Ajakan spontan ini pun mendapat tanggapan dari masyarakat umum. Perlahan rumah tahfizh pun berdiri dengan beragam macamnya.

Belakangan tidak hanya perorangan yang mendirikan rumah tahfizh tetapi juga perusahaan dan organisasi kemasyarakatan.

Proses berdirinya rumah tahfizh baik dari gagasan dan implementasinya dicatat dengan baik dalam buku Historia Rumah Tahfizh: Dari ini. Buku yang ditulis oleh Tarmizi As Shidiq, Bisyri Hasan dan Maulana Kurnia Putra ini merupakan hasil perjalanan dakwah Al-Qur’an, yaitu program Rumah Tahfizh yang digerakkan oleh Daarul Qur’an dan Ustadz Yusuf Mansur.

Dengan detil buku ini menjelaskan bagaimana rumah tahfizh bergulir menjadi kekuatan masyarakat yang organik.

Tulisan, baik itu hasil skripsi, desertasi, jurnal, opini terkait rumah tahfizh memang sudah banyak beredar. Namun begitu buku ini akan terasa istimewa mengingat ditulis oleh pelaku.

Meski akan terkesan subyektif namun buku ini akan menjadi rujukan buat penelitian terkait rumah tahfizh.

Buku yang terdiri dari 5 Bab ini tidak hanya berisi tentang nostalgia berdirinya rumah tahfizh, tapi juga tantangan untuk menciptakan mutu sekaligus arah dari rumah tahfizh itu sendiri.

Mengingat timbulnya rumah tahfizh banyak dari masyarakat, maka standarisasi baik kurikulum, guru, kelulusan menjadi penting. Penulis juga membahas dalam 1 bab terkait berdirinya Asosiasi Rumah Tahfizh Indonesia (ARTI) yang diharapkan akan menjadi rumah dari banyaknya rumah tahfizh di Indonesia.

Semoga dari buku ini nantinya lahir kembali buku-buku lainnya yang memotret gerakan dakwah Al-Qur’an di Indonesia, sehingga ada jejak rekam dan juga keberlanjutan gerakan ini oleh generasi penerus.***

Editor: denkur | Sumber: Rilis

 

Berita Terkait

Info Haji, Wukuf di Arafah akan Berlangsung 15 Juni 2024, Waspada Cuaca Panas dan Berdebu
Proses Keberangkatan ke Arafah akan Gunakan Smart Card, Ini Prosedurnya
Tren Idul Adha 2024: dari Pemilihan Hewan hingga Distribusi Daging Kurban
Visa Ziarah tidak Bisa Masuk Makkah Hingga 15 Zulhijjah 1445 H
Kemenag Rilis Aplikasi Kawal Haji, Ini Manfaatnya
88.987 Jemaah Berangkat ke Madinah pada Gelombang I, Ini Profilnya
Agama dan Kebangsaan: Kompatibilitas Islam dan Nilai-Nilai Kebangsaan
Tiga Doa Mohon Diberikan Anak Saleh dan Salehah
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Juni 2024 - 10:49 WIB

Info Haji, Wukuf di Arafah akan Berlangsung 15 Juni 2024, Waspada Cuaca Panas dan Berdebu

Jumat, 7 Juni 2024 - 15:01 WIB

Proses Keberangkatan ke Arafah akan Gunakan Smart Card, Ini Prosedurnya

Senin, 3 Juni 2024 - 14:21 WIB

Tren Idul Adha 2024: dari Pemilihan Hewan hingga Distribusi Daging Kurban

Jumat, 31 Mei 2024 - 11:29 WIB

Visa Ziarah tidak Bisa Masuk Makkah Hingga 15 Zulhijjah 1445 H

Senin, 27 Mei 2024 - 16:34 WIB

Kemenag Rilis Aplikasi Kawal Haji, Ini Manfaatnya

Senin, 27 Mei 2024 - 11:03 WIB

88.987 Jemaah Berangkat ke Madinah pada Gelombang I, Ini Profilnya

Rabu, 22 Mei 2024 - 23:02 WIB

Agama dan Kebangsaan: Kompatibilitas Islam dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Sabtu, 18 Mei 2024 - 16:51 WIB

Tiga Doa Mohon Diberikan Anak Saleh dan Salehah

Berita Terbaru

Foto: Istimewa

HEADLINE

Piala Eropa 2024, Jerman Pesta Gol ke Gawang Skotlandia

Sabtu, 15 Jun 2024 - 09:23 WIB

Foto: miga/dara.co.id

BANDUNG UPDATE

Prakiraan Cuaca Bandung, Sabtu 15 Juni 2024

Sabtu, 15 Jun 2024 - 08:31 WIB

mobil sim keliling kota Bandung

BANDUNG UPDATE

Lokasi Mobil SIM Keliling di Kota Bandung, Sabtu 15 Juni 2024

Sabtu, 15 Jun 2024 - 08:27 WIB