Peluncuran dan Diskusi Buku “Ekonomi Politik Indonesia dan Antar Bangsa”

Selasa, 2 Juli 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Negara-negara berkembang menjadi korban dari GDP oriented, yang selalu menghitung perekonomian dan menjadikannya tujuannya.

DARA | Demikian disampaikan Prof Didin S Damanhuri dalam peluncuran dan diskusi buku karyanya yang bertajuk “Ekonomi Politik Indonesia dan Antar Bangsa”,  di Natan Book Store & Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (2 Juli 2024).

Menurut Guru Besar Ekonomi Politik Universitas paramadina ini, Soeharto merupakan seorang pemimpin negara yang GDP Oriented, di era reformasi ini di mana Sri Mulyani memimpin 4 periode kementerian keuangan lebih sebagai orang yang neoliberalisme dan mengatakan “tidak mungkin sebuah negara maju dengan pertanian dan koperasi.”

“GDP Oriented mengeksploitasi pedesaan dan tidak kembali lagi ke desa. Dengan ini, akan terjadi middle income trap dan tidak akan terjadi Indonesia emas 2045 yang dicanangkan,” ujarnya.

Hadir sebagai pembahas Wijayanto Samirin menyatakan bahwa GDP Oriented sering digunakan karena sangat konkrit dan gampang digunakan, diukur dan dimanipulasi.

“Contohnya pulau di Maluku, di mana GDP pulau tersebut dianggap tinggi karena investasi masuk, kapal yang parkir dan lain sebagainya. Tetapi, GDP per kapita ini misleading di mana tingkat kemakmuran masyarakat di pulau tersebut tidak membaik sedangkan angka GDP-nya naik,” tutur Wijayanto.

Menurut Ekonom Universitas Paramadina ini jika hanya berfokus pada GDP maka tidak akan fokus pada sumber pendapatannya, sehingga sektor yang di inject uang menjadi naik GDP-nya.

“Rupiah melemah dibanding mata uang negara lain, karena terlalu fokus pada GDP. Apa solusinya? Harus ada sense of crisis, IMF dan World Bank terlalu diplomatis tetapi memaksa dan menekan habis-habisan, ideologinya harus jelas,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (2/7/2024).

Fachry Ali editor dan pemberi pengantar buku ini menyatakan keterkejutannya mengenai konsep “degrowth” sebuah kritik atas GDP Oriented. Konsep ini bukan sebuah teori, melainkan gerakan sosial yang dimulai di negara eropa bukan negara berkembang.

“Ekonomi itu kian lama mengklaim dirinya sebagai sains. Kemudian Didin tidak bangga mengklaim ‘ekonomi is a queen of sciences’. Dalam konteks ini lah asumsi-asumsi dasar harus diterapkan di berbagai tempat. Tentu bisa di berbagai negara termasuk negara baru berkembang dan baru merdeka,” ujar Fachry.

Itulah sebabnya dalam perspektifnya sebagai ekonom menyampaikan anjuran terhadap pertanian, UMKM, masyarakat dan lembaga masyarakat. Dengan ini menganut paham holistic economic, dan melihat bahwa ekonomi itu adalah bagian integral ‘as a whole’ harus mempunyai pemihakan-pemihakan.

“Kalau kemudian pandangan negara dipusatkan pada pembangunan ekonomi pedesaan maka implikasinya akan banyak yang dapat berpartisipasi di dalamnya, kemudian akan terjadi ‘well of income distribute’ yang lebih adil. Kemudian jika ekonomi dikembangkan dalam sektor finance maka akan banyak yang tertinggal di belakang,” tutur  Fachry.***

Editor: denkur

 

Berita Terkait

Mencicipi Citra Rasa Kopi di K-Coffee Culture & Arts KCCI
Ancaman Makin Kompleks, Wapres Minta Aparat TNI-Polri ‘Melek’ Teknologi
Dukung dan Vote Jagoan Ambyarmu di Ajang Penghargaan Ambyar Awards 2024
Simak Nih, Catatan Diskusi: Dilema Kabinet Prabowo dalam Bingkai Koalisi Besar
Presiden Jokowi Sambut Kunjungan Grand Syekh Al Azhar, Tekankan Perdamaian dan Toleransi
FIFGROUP Gandeng YKPI Edukasi Deteksi Dini Kanker Payudara
Bey Machmudin Saksikan Penyampaian LHP LKPP 2023 dari BPK ke Presiden RI
Kembangkan Kepemimpinan Digital, Kominfo Siapkan DLA
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 14 Juli 2024 - 15:46 WIB

Mencicipi Citra Rasa Kopi di K-Coffee Culture & Arts KCCI

Sabtu, 13 Juli 2024 - 12:27 WIB

Ancaman Makin Kompleks, Wapres Minta Aparat TNI-Polri ‘Melek’ Teknologi

Jumat, 12 Juli 2024 - 16:20 WIB

Dukung dan Vote Jagoan Ambyarmu di Ajang Penghargaan Ambyar Awards 2024

Jumat, 12 Juli 2024 - 14:53 WIB

Simak Nih, Catatan Diskusi: Dilema Kabinet Prabowo dalam Bingkai Koalisi Besar

Kamis, 11 Juli 2024 - 11:31 WIB

Presiden Jokowi Sambut Kunjungan Grand Syekh Al Azhar, Tekankan Perdamaian dan Toleransi

Berita Terbaru

Foto: Istimewa

JABAR

Sekda Kabupaten Sukabumi Minta ASN Tetap Jaga Kekompakan

Senin, 15 Jul 2024 - 16:16 WIB



Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin  membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2024/2025 di SMA Negeri 5, Kota Bekasi, Senin (15/7/2024).(Foto: Biro Adpim Jabar)

EDUKASI

Pesan Bey Machmudin: Siswa Baru Jangan Tegang Ikut MPLS

Senin, 15 Jul 2024 - 14:55 WIB