Komunikasi, AI dan Literasi Politik: Peluang dan Tantangan

Minggu, 17 Desember 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Media tidak bisa lepas dari agenda kekuatan politik

DARA | Pasalnya, media berhubungan langsung dengan publik. Media dipengaruhi oleh politik, politik pun membutuhkan media sebagai tempat untuk menyalurkan pesan-pesan dari agenda politik kepada publik.

Demikian disampaikan Dr Edison Hutapea, MSi, pada diskusi daring bertajuk “Komunikasi, AI dan Literasi Politik: Peluang dan Tantangan” yang diselenggarakan oleh Paramadina Graduate School of Communication dimoderatori oleh Faris Budiman Annas, Sabtu (16/12/2023).

Menurut Edison media seharusnya bersifat independen, namun hal ini sulit untuk diwujudkan karena terdapat ideologi politik yang memengaruhi media-media di Indonesia.

“Hal ini terjadi karena di balik media terdapat elite politik yang ‘menguasai’ media tersebut (contohnya Surya Paloh yang menguasai stasiun televisi MetroTV). Elite politik tersebut akan membuat media yang dikuasainya agar menyebarkan ideologi politik kepada publik.” ujarnya.

Ia juga menyinggung tentang Artificial intelligence (AI) yang dapat memberikan manfaat positif terhadap demokrasi.

“AI bermanfaat untuk mencegah kecurangan, seperti meningkatkan literasi komunikasi politik pada pemberitaan hoax dan menangkal misinformasi dan disinformasi,” tuturnya.

AI juga dapat dimanfaatkan oleh tim pengusung elite politik tertentu untuk menganalisis hal-hal yang disukai oleh para pemilih dimana pada Pemilu 2024, 60% pemilik suara merupakan pemuda.

“AI dapat digunakan untuk mencari tahu apa saja yang disukai oleh para pemuda saat ini untuk kemudian dijadikan gimmick oleh tim pengusung elite politik tertentu dan disebarkan melalui berbagai media. Maka dari itu, mahasiswa harus memiliki critical review karena media tidak bersifat netral dan politik tidak lagi mengutamakan wacana yang bersifat rasional, namun lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat emosional,” ujar Edison.

Narasumber lainnya, Wahyutama, Ph.D. menyatakan bahwa dalam penggunaannya, AI memiliki kecenderungan untuk mengambil keputusan yang bersifat otomatis, dan hal ini salah satunya dapat digunakan untuk melakukan proses pengambilan kebijakan.

AI juga dapat digunakan untuk menganalisis data dan mengambil kesimpulan berdasarkan data-data yang tersedia serta menganalisis dampak positif dan negatif dalam banyak hal.

Di sisi lain lanjut Wahyu, AI juga dapat mencederai demokrasi karena AI dapat mengambil data-data pribadi milik para pengguna media sosial.

“Data-data tersebut diretas tanpa persetujuan pemiliknya dan digunakan untuk melakukan profiling kemudian dijual ke dalam dunia politik untuk hal-hal yang menguntungkan tim pendukung elite politik tertentu. Fenomena ini terjadi pada kasus pemilihan presiden di Amerika Serikat pada tahun 2016 yang pada akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump,” tuturnya.

Wahyu mencontohkan Tim pendukung Ferdinand Marcos, Jr yang memanfaatkan AI untuk membuat propaganda-propaganda politik yang bertujuan untuk menaikkan citra diri Marcos, Jr. Mereka seperti menulis ulang sejarah, memperlihatkan seolah-olah Ferdinand Marcos, Sr adalah seorang pahlawan, dan propaganda tersebut diperlihatkan kepada generasi muda di Filipina.

“Pada akhirnya, di media sosial TikTok, bermunculan tren yang menunjukkan dukungan para generasi muda Filipina terhadap Ferdinand Marcos, Jr, seperti konten-konten berupa jingle, meme, dan dance challenge. Fenomena ini bisa terjadi karena generasi muda di Filipina tidak mengetahui fakta sejarah bahwa ayah dari sosok yang mereka dukung merupakan seorang diktator. Mereka termakan oleh propaganda politik yang disebarkan oleh tim pendukung Ferdinand Marcos, Jr.” tutur Wahyu.

Editor: denkur | Sumber: Rilis

Berita Terkait

PWI Sumsel Tolak Keputusan DK Pusat
Maria Pudesa Meriahkan Acara Grand Opening Jus Masaki Signature
Eksplorasi ATV Off-Road di Kaki Gunung Arjuna Sambil Berinteraksi dengan Satwa di The Grand Taman Safari Prigen
Keajaiban Alam di “Enchanting Forest” The Grand Taman Safari Prigen, Destinasi Favorit Baru Pilihan Keluarga di Jawa Timur
Keseruan Media Trivia di Booth Astra Financial GIIAS 2024 Turut Dukung Peningkatan Literasi Keuangan
Erick Thohir Utamakan Kesehatan Mental Karyawan BUMN, Gelar Roadshow 1000 Manusia Bercerita di Jawa Barat
Besok Malam, Saksikan Penghargaan Kepada Seluruh Insan Dangdut Ambyar di Ajang Ambyar Awards 2024
Awalnya Balapan Liar, Bripda Adi Tom Kini Jadi Pebalap Sungguhan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juli 2024 - 08:42 WIB

PWI Sumsel Tolak Keputusan DK Pusat

Minggu, 21 Juli 2024 - 14:50 WIB

Maria Pudesa Meriahkan Acara Grand Opening Jus Masaki Signature

Minggu, 21 Juli 2024 - 13:30 WIB

Eksplorasi ATV Off-Road di Kaki Gunung Arjuna Sambil Berinteraksi dengan Satwa di The Grand Taman Safari Prigen

Minggu, 21 Juli 2024 - 13:24 WIB

Keajaiban Alam di “Enchanting Forest” The Grand Taman Safari Prigen, Destinasi Favorit Baru Pilihan Keluarga di Jawa Timur

Minggu, 21 Juli 2024 - 09:39 WIB

Keseruan Media Trivia di Booth Astra Financial GIIAS 2024 Turut Dukung Peningkatan Literasi Keuangan

Berita Terbaru

CATATAN

PASCA JOE BIDEN Dari Zampoli Hingga Johnson

Senin, 22 Jul 2024 - 19:05 WIB

DISDIK

Proyek e- Katalog Disdik Jabar Jadi Sorotan

Senin, 22 Jul 2024 - 18:36 WIB