Kenali Glaucoma Si Pencuri Penglihatan

mm

Kamis, 28 Maret 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Kemenkes

Foto: Kemenkes

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Ditjen P2P menggelar webinar dengan tema global “Uniting for Glaucoma-Free World” untuk memperingati World Glaucoma Week melalui zoom meeting, Selasa (26/3/2024).

DARA | Webinar ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait glaukoma dan secara teknis meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan agar mengenal lebih jauh tentang glaukoma, skrining glaukoma, dan tata laksana glaukoma.

Direktur P2PTM Dr Eva Susanti, dalam sambutannya, menyampaikan, pentingnya pelaksanaan webinar tersebut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara mencegah dan mengendalikan glaukoma agar dunia terbebas dari glaukoma.

Ia juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan mata secara teratur agar glaukoma dapat dideteksi sedini mungkin, dan bila ditemukan tanda atau gejala maka dapat ditindaklanjuti dengan pengobatan yang tepat.

“Secara ideal sumber daya yang berkualitas harus bebas gangguan panca Indera termasuk bebas dari gangguan penglihatan dan kebutaan. Oleh karena itu penanggulangan gangguan penglihatan perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh dari seluruh jajaran pemerintah bersama masyarakat,” kata Dr Eva.

Direktur Eva melanjutkan, glaukoma merupakan penyebab kedua kebutaan di Indonesia setelah katarak. Namun, berbeda dengan katarak, kebutaan yang disebabkan oleh glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki. Angka kejadian glaukoma diperkirakan meningkat seiring dengan peningkatan harapan hidup masyarakat Indonesia.

“WHO memperkirakan 57,5 juta orang di seluruh dunia terkena glaukoma. Setidaknya 50% orang (penderita glaukoma) di negara maju tidak menyadari menderita glaukoma dan jumlah ini dapat meningkat menjadi 90% di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar direktur Eva.

Glaukoma merupakan penyakit yang tidak menimbulkan gejala. Karena itu, sosialisasi dan edukasi pada masyarakat yang diikuti dengan deteksi dini penemuan glaukoma sangat penting. Sebab, semakin dini glaukoma ditemukan dan diikuti tindak lanjut yang tepat, semakin penderita akan terhindar dari kebutaan.

Dr Fifin Luthfia, yang juga menjadi narasumber pada webinar tersebut, menyampaikan bahwa glaukoma merupakan penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak baik di seluruh dunia maupun di Indonesia dan bersifat permanen.

Glaukoma menyumbang 12,3% dari total kasus kebutaan. Di dunia, dari 39 juta kasus kebutaan, sebanyak 3,2 juta disebabkan glaukoma. Di Indonesia, 4 sampai 5 orang dari 1.000 orang menderita glaukoma.

“Ketika kita melakukan upaya-upaya untuk pengobatan atau upaya kuratif itu biasanya tidak akan memperbaiki penglihatan tetapi hanya mempertahankan kondisi yang saat ini ada,” kata Dr Fifin.

Beberapa faktor risiko glaukoma, kasus glaukoma pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dan kasus glaukoma pada ras kulit hitam lebih banyak dibandingkan ras kulit putih. Glaukoma juga merupakan penyakit degeneratif sehingga risikonya meningkat seiring bertambahnya usia.

Faktor lain yang berperan adalah riwayat glaukoma dalam keluarga, status refraksi seperti miopia dan hipermetropia, serta penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan hipotensi.

Dr Evelyn, narasumber lainnya, menekankan pentingnya skrining glaukoma sebagai deteksi dini untuk meminimalisir kehilangan fungsi penglihatan.

World Glaucoma Week 2024 menganjurkan skrining menggunakan patokan usia, yaitu usia di bawah 40 tahun sebanyak 2-4 tahun sekali, usia 40-60 tahun sebanyak 2-3 tahun sekali, usia lebih dari 60 tahun sebanyak 1-2 tahun sekali.

“Tentunya ini hanya patokan karena akan ada faktor risiko, kemudian keluhan, hasil pemeriksaan, tentunya itu akan berbeda-beda setiap pasien,” kata Dr Evelyn.

Glaukoma kronis tidak menimbulkan gejala sehingga berbeda dengan glaukoma akut yang menimbulkan gejala seperti mata merah, nyeri pada mata, pandangan kabur, mual dan muntah, melihat pelangi atau lingkaran cahaya, dan penyempitan lapang pandangan.

“Yang khas itu melihat pelangi atau lingkaran cahaya, jadi gambarannya itu pas hujan kita naik mobil kita melihat dari jendela lampu di luar itu di sekitarnya ada gambaran warna-warna pelangi itu yang menjadi ciri khas orang glaukoma pada saat tekanannya tinggi,” ujar Dr Evelyn.

Dr Virna Dwi, juga sebagai narasumber, menyampaikan tujuan tata laksana glaukoma, yaitu mempertahankan fungsi penglihatan, menjaga kualitas hidup pasien, mencegah penurunan lapang pandangan, menangani faktor risiko, yaitu tekanan bola mata.

“Walaupun kita tahu 80-90% kasus glaukoma di Indonesia faktor risikonya tekanan bola mata tinggi, sehingga memang kita berupaya semaksimal mungkin menurunkan tekanan bola mata dengan sebaik-baiknya, kemudian juga faktor-faktor risiko terkait,” kata Dr Virna.

Dr Virna juga menyampaikan modalitas tata laksana glaukoma untuk menurunkan tekanan bola mata, yaitu dengan medikamentosa atau obat-obatan, laser, dan pembedahan. Sedangkan neuroproteksi, yaitu dengan, citicoline, ginkgo biloba, memantine, dan vitamin B1.

“Tapi, neuroproteksi ini masih dalam penelitian masih ada beberapa penelitian. Namun, penelitian-penelitian yang lain ini seperti vitamin B1, ginkgo biloba, memantine, itu ada tetapi ketika di coba di pasien masih kurang jelas efeknya,” kata Dr Virna.***(DJ/Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI)***

Editor: denkur

Berita Terkait

Persembahan Terbaik MNC Media Entertainment untuk Keluarga Indonesia
Daftar Produk Otomotif yang Berguna Saat Mudik Lebaran
Malam Ini, Farel Prayoga Hadir di Uang Kaget Lagi X Bedah Rumah Lagi
10 Tips Mudik agar Perjalanan Lancar Sampai Tujuan
Diskusi Depmufil PWI Pusat dan Kemendikbudristek RI, Bisnis Konser Musik dan Cuan untuk Negara
Awas! Minum Minuman yang Memakai Pemanis Buatan Bisa Tingkatkan Stroke dan Gagal Jantung
IKWI Pusat Berbagi di Bulan Ramadhan, 300 Paket Sembako dan Alat Sholat
Memahami Gen Z: Preferensi dalam Dunia Kerja

Berita Terkait

Jumat, 19 April 2024 - 18:37 WIB

Persembahan Terbaik MNC Media Entertainment untuk Keluarga Indonesia

Minggu, 7 April 2024 - 00:39 WIB

Daftar Produk Otomotif yang Berguna Saat Mudik Lebaran

Kamis, 28 Maret 2024 - 20:21 WIB

Malam Ini, Farel Prayoga Hadir di Uang Kaget Lagi X Bedah Rumah Lagi

Kamis, 28 Maret 2024 - 00:46 WIB

Kenali Glaucoma Si Pencuri Penglihatan

Selasa, 26 Maret 2024 - 13:44 WIB

10 Tips Mudik agar Perjalanan Lancar Sampai Tujuan

Minggu, 24 Maret 2024 - 14:57 WIB

Diskusi Depmufil PWI Pusat dan Kemendikbudristek RI, Bisnis Konser Musik dan Cuan untuk Negara

Minggu, 24 Maret 2024 - 12:24 WIB

Awas! Minum Minuman yang Memakai Pemanis Buatan Bisa Tingkatkan Stroke dan Gagal Jantung

Rabu, 20 Maret 2024 - 17:26 WIB

IKWI Pusat Berbagi di Bulan Ramadhan, 300 Paket Sembako dan Alat Sholat

Berita Terbaru

Foto: Kominfo

HEADLINE

Pemerintah Bentuk Satgas Penanganan Pornografi Anak

Jumat, 19 Apr 2024 - 16:06 WIB