Bandung 1.000 Kampung, Jelekong Produksi Seribu Lukisan Berbahan Sampah

mm

Selasa, 23 April 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: HUmas Pemkab Bdg

Foto: HUmas Pemkab Bdg

DALAM  menerapkan Program Bandung 1.000 Kampung Pemkab Bandung mengakui, dalam pelaksanaanya memerlukan waktu. Konsep yang terkandung dalam program tersebut di antaranya membangun dan menata seribu kampung.

Program Bandung 1.000 Kampung, fokus terhadap grand design pembangunan berbasis kampung dengan penataan ruang yang lebih baik.

Keberadaan Kampung Seni dan Budaya di Kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah, bisa menjadi salah satu perwujudan konsep yang tertuang dari program itu. Selain lukisan, tempat tersebut merupakan pusat makanan Sunda, sentra pembuatan wayang golek, dan sejumlah dalang ternama pun berasal dari sana, sebut saja Dalang Asep Sunandar Sunarya.

Kabupaten Bandung memiliki Jelekong sebagai kampung seni sekaligus sentra penghasil lukisan terbesar di Jawa Barat. Harga lukisan dari Jelekong terbilang murah, namun tidak murahan.

Bahkan kualitasnya bisa bersaing dengan lukisan seniman kelas dunia. Iman Budiman, Ketua Sanggar Lukis Jelekong dan Ketua Yayasan Pendidikan Seni Budaya Jelekong, mengungkapkan, lukisan Jelekong terbagi menjadi dua kelas yaitu industri dan karya.

Kelas industri dijual berkisar mulai ratusan ribu hingg  jutaan rupiah. Sedangkan kelas karya dijual berkisar mulai Rp1 juta hingga Rp60 jutaan.

“Di Asia terdapat dua Kampung Seni Lukis, di Cina dan di Jelekong ini. Masing-masing memiliki ciri khas dan karakter yang berbeda,” katanya, seraya menambahkan, lukisan kelas industri digarap secara cepat dengan bahan baku semurah mungkin untuk meminimalisir beban biaya produksi. Sedangkan kelas karya pelukisnya harus lebih banyak mengikuti event seperti pameran.

Dengan seringnya mengikuti event, para peminat atau kolektor seni akan mengenal bahwa Jelekong memiliki seniman-seniman lukis yang mampu bersaing dengan seniman akademisi. “Sedangkan di kelas industri, kami telah memiliki pasar di kota-kota besar di Indonesia. Sekitar 70% kami pasarkan di Bali, 30% di Jakarta, Medan, Pekanbaru dan lain-lainnya,” ujar pria yang akrab dipanggil Kang Iman itu.

Tahun kemarin, 20 pemuda Jelekong dari setiap RW disekolahkan ke Selasar Soenaryo. Kebanyakan mereka beraliran realis namun setelah disekolahkan muncul beragam aliran.

Salah satu karya yang cukup membanggakan yaitu seribu lukisan berbahan dasar sampah. ”Ilmu itu bisa ditularkan kepada siapapun tanpa ada batasan dan itu tengah kami lakukan sampai saat ini. Nah setelah disekolahkan, kini aksinya sudah mulai tampak,” katanya pula.

Karya mereka, yaitu seribu lukisan yang terbuat dari sampah organik dan anorganik, masuk rekor dunia saat acara Program Kota 1.000 Terang di Dome Balerame Soreang 2018. “Karya berbahan dasar sampah itu terilhami saat Sungai Citarum viral sebagai sungai paling tercemar di dunia. Sebagian besar sudah terjual, pembelinya kebanyakan dari pihak perhotelan,” ujar Kang Iman.

Kreativitas ini, mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Bandung, HDadang M Naser. Melukis dengan bahan baku sampah, menurut bupati, selain dapat menghidupkan Kampung Lukis Jelekong, juga dapat membantu pemerintah daerah mengurangi sampah.

“Tidak hanya bertumpu pada sisi ekonomis, namun para pelukis Jelekong ini ikut peduli pada persoalan lingkungan yang tengah dihadapi oleh pemerintah. Dengan kreativitasnya ini secara tidak langsung ikut mendukung program Citarum Harum,” ujar dia.

Bupati menjelaskan, Kabupaten Bandung memiliki target menuju Bandung Bersih Sampah Tahun 2020. Dengan menggulirkan beberapa program sebagai penanganan lingkungan berupa optimalisasi upaya konservasi dan pengembangan kampung.

“Konservasi tematik untuk menuju Kabupaten Bandung 1000 Kampung. Konsep yang termuat salah satunya adalah mengubah prilaku masyarakat dalam mengelola sampah dan mewujudkan lingkungan yang bersih dan teduh,” ujarnya.

Ia berharap, kreativitas dan inovasi lainnya bisa bermunculan juga di wilayah lainnya di Kabupaten Bandung. “Para seniman Jelekong ini, selain berkarya secara ekonomis, aksinya berdampak ibadah bagi orang lain.”***

Sumber: Humas Pemkab Bdg

Berita Terkait

Tunjukkan Profesionalisme, Kinerja Inspektorat Diapresiasi Bupati Bandung
Resmikan Masjid Besar Ciparay ,Kang DN : Harus Jadi Pusat Kegiatan Umat
Bupati Bandung Dadang Naser Pamitan kepada Wartawan
Asyiik… Kabupaten Bandung Peringkat Pertama Kepatuhan Protokol Kesehatan
Jalan Ibun- Kamojang Dinamai Jalan Pagar Betis Letnan Jenderal Ibrahim Adjie, Ini Alasannya
Satu Dekade Kang DN, Kesehatan Kontribusi Terbesar IPM Kabupaten Bandung
Wakil Bupati Bandung: Kesadaran Masyarakat Kunci Keberhasilan Citarum Harum
Diakhir Jabatannya, Bupati Apresiasi Kinerja OPD

Berita Terkait

Selasa, 16 Februari 2021 - 19:38 WIB

Tunjukkan Profesionalisme, Kinerja Inspektorat Diapresiasi Bupati Bandung

Minggu, 14 Februari 2021 - 10:54 WIB

Resmikan Masjid Besar Ciparay ,Kang DN : Harus Jadi Pusat Kegiatan Umat

Minggu, 7 Februari 2021 - 21:13 WIB

Bupati Bandung Dadang Naser Pamitan kepada Wartawan

Rabu, 3 Februari 2021 - 18:32 WIB

Asyiik… Kabupaten Bandung Peringkat Pertama Kepatuhan Protokol Kesehatan

Rabu, 3 Februari 2021 - 10:51 WIB

Jalan Ibun- Kamojang Dinamai Jalan Pagar Betis Letnan Jenderal Ibrahim Adjie, Ini Alasannya

Selasa, 2 Februari 2021 - 11:37 WIB

Satu Dekade Kang DN, Kesehatan Kontribusi Terbesar IPM Kabupaten Bandung

Senin, 25 Januari 2021 - 13:06 WIB

Wakil Bupati Bandung: Kesadaran Masyarakat Kunci Keberhasilan Citarum Harum

Sabtu, 23 Januari 2021 - 11:11 WIB

Diakhir Jabatannya, Bupati Apresiasi Kinerja OPD

Berita Terbaru

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi Ade Suryaman (Foto: Ist)

HEADLINE

Sekda Sukabumi, Orang Asing Perlu Diawasi

Rabu, 28 Feb 2024 - 14:03 WIB