Logo
Bandungraya

Mengisi Ramadhan, Teater Senapati Bandung Gelar Drama Musikal Religi Sunda: “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman”

Karya Sutradara: Rosyid E. Abby

Mengisi Ramadhan, Teater Senapati Bandung Gelar Drama Musikal Religi Sunda: “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman”
Foto: Istimewa

“Ammar al-Iman” –adalah gelar yang diberikan Nabi Muhammad Saw kepada Ammar bin Yassir, artinya “Ammar yang penuh iman”.


DARA | Ammar bin Yassir lahir di Makkah dari keluarga sederhana keturunan Yaman. 

Ayahnya, Yassir bin Amir, dan ibunya, Sumayyah binti Khayyat, termasuk kalangan mustadh‘afin (orang lemah) di tengah kerasnya masyarakat Quraisy.

Saat Islam pertama kali diserukan oleh Nabi Muhammad, Ammar termasuk tujuh orang pertama yang memeluk Islam, menjadikannya pelopor dalam sejarah dakwah Islam.

Namun, keimanannya segera diuji. Bersama kedua orang tuanya, Ammar menghadapi siksaan kejam kaum Quraisy. Mereka dibaringkan di padang pasir yang membara, disiksa agar meninggalkan Islam. Di hadapan matanya, ibunya Sumayyah gugur sebagai syahidah pertama dalam Islam, ditikam oleh Abu Jahal. Ayahnya pun wafat karena siksaan berat.

Ammar sendiri sempat dipaksa mengucapkan kata kufur untuk menyelamatkan nyawanya — sesuatu yang kemudian diampuni oleh Allah dan Nabi, karena hatinya tetap beriman.

Setelah peristiwa hijrah, Ammar bergabung dengan kaum Muslimin di Madinah. Ia turut berjuang dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan seluruh peperangan besar bersama Rasulullah. Nabi Muhammad sangat menghormatinya dan pernah bersabda: “Ammar dipenuhi iman dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
Dan dalam hadis lain, Nabi bersabda: “Celakalah kelompok yang membunuh Ammar, karena ia akan dibunuh oleh kelompok yang zalim.”

Setelah wafatnya Rasulullah, Ammar tetap teguh dalam perjuangan Islam. Ia menjadi sahabat setia Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Di masa Khalifah Utsman bin Affan, ia  menjadi salah satu sahabat yang lantang menyeru pada keadilan dan kebenaran, meski sering berselisih dengan para penguasa yang cenderung keras.

Puncak kehidupannya terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, ketika terjadi Perang Shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyah. Ammar, yang sudah sangat tua namun tetap gagah, berperang di pihak Ali —membela khalifah sah yang dipilih umat. Dalam pertempuran itu, Ammar gugur sebagai syahid setelah tubuhnya ditikam oleh pasukan lawan.

Wafatnya Ammar mengguncang banyak pihak, karena sabda Nabi terbukti: ia dibunuh oleh “kelompok yang zalim”. Jenazahnya dimuliakan, dan namanya dikenang sebagai simbol iman, kesetiaan, dan keberanian tanpa kompromi terhadap kebenaran. 

“Kasidah Cinta Ammar al-Iman” adalah gambaran dan bukti cinta Ammar bin Yassir kepada Tuhannya, Allah Azza wa Jalla, beserta rasul-Nya, Muhammad Saw.

Kisah Ammar al-Iman ini diangkat dalam drama musikal reliji Sunda Teater Senapati Bandung dengan judul “Kasidah Cinta ‘Ammar AlIman” karya sutradara Rosyid E. Abby, asisten sutradara Dadan Darto Ramdani.

Pergelaran mengisi bulan Ramadhan 1447 H ini berlangsung di Teater Tertutup, Taman Budaya Jawa Barat, Jl Bukit Dago Selatan No53A, Bandung, Sabtu, 7 Maret 2026, pukul 13.00 WIB, serta di Amphitheater UPI Jl Dr Setiabudi No.229, Isola, Bandung, Rabu, 11 Maret 2026, pukul 15.00 WIB.

Pentas drama musikal ini didukung tak kurang dari 55 pemain. Konsep garapnya memadukan seni drama, nyanyian (seni musik), dan seni tari (gerak/koreo), dengan media dialognya menggunakan bahasa Sunda.

Pentas ini merupakan rangkaian dari pentas episodial Drama Sunda Religi “Kasidah Cinta”, yang dipergelarkan setiap tahun di bulan Ramadan (sejak 2006) oleh kelompok Teater Senapati Bandung.

Kasidah Cinta Jilid I berjudul “Kasidah Cinta Jalma-jalma nu Iman” (2006), lalu disusul dengan Kasidah Cinta jilid-jilid selanjutnya, yakni “Kasidah Cinta
Sang Muadzin” (2007 & 2019), “Kasidah Cinta Sang Singa Allah” (2008 & 2017), “Kasidah Cinta Sang Sahabat” (2009), “Kasidah Cinta Sang Abid” (2010), “Kasidah Cinta di Palagan Karbala” (2011), “Kasidah Cinta Al-Kubra” (2012, 2018, 2023), “Kasidah Cinta Al-Faruq” (2014, 2025), “Kasidah Cinta Shahabiyah” (Hindun binti ‘Utbah) (2016, 2024), dan “Kasidah Cinta Hamzah Asadullah” (2017), dan “Kasidah Cinta ‘Ammar Al-Iman” (2026).

Dalam rentang 20 tahun sejak 2006, Teater Senapati hanya abstain 5 kali untuk mengisi pentas Ramadan, yakni di tahun 2013 dan 2015 karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan, dan selebihnya karena pandemi (2020, 2021, 2022).

Pentas Ramadan Teater Senapati kali ini dibuka dengan pembacaan puisi Kyai Matdon. Sedangkan pementasannya akan diperkuat para aktor senior seperti Rinrin Candraresmi, Dado Tisna, Dian Hendrayana, Apip Catrixs, Eka Candra W, Harya Prabu, Heksa Ramdono, Ata Drumime, Superjonesia, Rasyid Vanadi, Dadan Darto Ramdani, dll, di samping para aktor dari komunitas teater SMA Pasundan 3 Bandung, Barak Teater, Teater Lima Wajah, dan Teater Kaler.

Sedangkan para penata yang terlibat:

-Penata Gerak Laras Yoseph Iskandar,

-Penata Artistik Iki Sumi & ParaSenapati,

-Penata Cahaya Ranna Beben,

-Penata Make Up Dinia Riyanti & Teater Lima Wajah,

-Penata Kostum Syifa Aulia,

-Penata Musik Farhan Venyol, 

-Pemusik Farhan Venyol, Alfarizi Alamin, Arif Fathurahman, Dwi Capung, Puspita Mayang, Stage Manager Dado Tisna,

-Pimpinan Produksi Ipan Garmawan,

-Tim Produksi: Achadiat Nurhayat, Manda Matew, Natasya Kifar, Yashinta Indriani,

-Penasihat-Produksi Apip Catrixs. 

Editor: denkur

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE